beranda

Mau kemana kita hari ini?

Apakah kamu suka belai angin sepoi menerpa wajah, dari balik jendela bus atau kereta? Atau mungkin kapas-kapas awan, renik kota, gunung, laut biru di balik jendela pesawat?

Atau debar resah di malam hari setelah berkemas, sebelum mengejar pesawat dini hari esok hari?

Ya, kita akan pergi piknik!

Saya menyimpan dan merangkai ingatan manis tentang piknik. Masa kecil saya pernah tersenyum girang saat piknik bareng keluarga ke Taman Mini Indonesia Indah, foto di patung-patung depan rumah adat dan museum komodo. Saya ingat bagaimana ayah saya suka berfoto di bunga-bunga bermekaran, atau ibu saya yang suka jajan bakso. Sedikit banyak, pengalaman piknik saya terjadi karena momen piknik sekolah, mengingat kedua orang tua saya adalah guru SD dan SMA. Barangkali perulangan itu berlanjut ketika saya menginjak dewasa dan kini bisa menabung dari nafkah untuk pergi piknik seru bersama teman-teman, maupun piknik sendiri (psst, ada kesenangan yang khas saat piknik sendiri lho).

Mengamati adalah satu hal yang saya senangi saat piknik. Baik itu mengamati perilaku orang, jalan, kucing, burung, langit, juga sesama orang piknik. Belakangan, saya juga mengamati arsitektur dan tempat dengan porsi lebih, dan mungkin akan selalu begitu ke depannya. Dengan ingatan yang pendek, acapkali berlompatan dan terselip dalam lipatan waktu, saya dedikasikan ruang ini sebagai penanda. ‘Supaya ingat jalan pulang,’ kata seorang teman perjalanan. Agar jadi kebiasaan arsitek untuk piknik dan mengamati banyak dunia, merenungkan, dan meresapi. Mungkin dunia ini tak selalu tentang arsitektur, tapi senangnya jika kita bisa menemukan dan menginsafi peran melalui arsitektur. Dan, menjadi arsitek adalah proses yang panjang, barangkali tiada usai.

Begitulah sambutan dari beranda arsitekpiknik. Mau kemana kita hari ini?

Posted in Beranda | Tagged , , | Leave a comment

Tujuh

Menapaki bulan ke tujuh di Sheffield, mendekati ambang menuju sesuatu yang baru.

Tak mampu diri ini menghitung perihal nikmat yang patut disyukuri. Sekiranya ada yang mampu diutarakan, itu adalah dorongan untuk berbuat sesuatu sebaik-baiknya. Seperti meresapi angin saat terbang, serupa menghirupi tanah saat jatuh. Yang satu tak berarti lebih baik dari yang lain.

Tujuh. Menandai perubahan waktu barangkali tak selalu berarti perubahan diri. Pribadi saya masih tetap sama. Kalaupun ada perubahan, mungkin lebih menerima kekurangan diri serta mengenali kelebihannya. Tak berusaha jadi sempurna, apalagi untuk menyenangkan orang lain. Sesekali menerima. Sesekali memberi.

Tujuh. Menyekat waktu menjadi ruang seperti ini adalah teknik yang kuno. Meruangkan hidup dalam angka dan menandainya dalam konsep linear, dan menakar makna-makna yang terjadi di dalamnya. Hidup, dengan maha kaya, tentu bergeliat lebih liar dari perhitungan angka seorang manusia. Sepanjang apapun daftar pencapaian dan kegagalan yang dituliskan, mungkin pada titik tertentu menjadi hambar. Seperti membubuhi warna yang dicari kemudian hingga menjadi patut dan benar.

Tujuh. Barangkali manusia ibarat stasiun yang menerima sosok yang datang, sekaligus melepas sosok yang pergi. Siang berganti malam. Riuh menuju hening. Sirene memanggil dan mengantar. Rel-rel berkelindan, mempersilakan yang mendahului dan menemani yang menunggu. Melintasi ruang yang mengecil, sebelum hilang dalam pendar cakrawala.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

To Ann

How dangerous
to be kind and tender,
How radical
to listen and think,
How brave
to accept the lives of others

How beautiful that life changes
from winter to summer,
from the light to the dark,
leaving any explanations
or recognitions

For the unknown years ahead,
within the infinite series of events,
crying and laughing,
watering and bleeding,
searching and re-searching,
we just keep
on dancing

*Norfolk Heritage Park, summer 2020

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Tentang perubahan

Apakah cintamu kepada iklim juga ikut berubah?

Setetes embun bertanya pada

bulir padi yang tertunduk diam, bersama musim yang gagal

Sementara pagi yang buta menyanyikan syair rindu, rindu pada hela nafas petani muda yang menikah lalu pindah ke kota

Embun-embun lain memeluk daun erat-erat, sesaat sebelum angin berbisik pada pagi, tentang banjir dan nama-nama yang hanyut hilang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tentang penerimaan

Portobello Point, 19.41 BST

Hidup punya cara untuk membuka jalan pertemuan dan perpisahan. Tawaran dan penerimaan adalah bentuk sederhananya.

“I accepted the offer.”

Kabar tentang penerimaan supervisor ke dua sebagai pengajar full-time di Cambridge itu sampai dengan ringan. Mulai September tahun ini, beliau akan mundur sebagai supervisor ke dua dan saya perlu mencari supervisor pengganti. Nama-nama diusulkan, termasuk di antaranya ‘nama besar’ yang bertangan dingin meraba Jakarta dari dekat. Namun, perasaan saya tergoyahkan oleh hal lain saat ini.

Saat mendengar kabar baik itu, saya sungguh terbawa bahagia. Di tengah pertemuan virtual kami bertiga; saya, supervisor pertama, dan supervisor ke dua, sungguh tak terlintas bayangan bagaimana pergantian supervisor ini akan mempengaruhi studi saya. Yang ada hanya kesenangan saat diceritakan bahwa ini proses yang cepat dan tak terduga. Dan aneh memang, meski kami terhubung lewat monitor, aura lapang dan lega dapat saya rasakan. Mengajar full-time di Cambridge akan memudahkan pergerakannya yang sebelumnya rutin bolak-balik Cambridge-Sheffield dan menginap di Sheffield tiap minggu untuk mengajar. Perpindahan tempat kerja ini akan mendekatkannya dengan keluarga di Cambridge dan, saya duga, juga memudahkannya meniti karir menjadi profesor di sana.

Suatu kali pernah kami berdiskusi sampai dua jam membahas tulisan saya tentang Jakarta yang didera banjir awal tahun. Ia memberikan masukan dengan detil dan sensitif tanpa terpaku pada kerangka-kerangka besar. Saya ingat bagaimana ia menggali lebih lanjut dimensi psikologis dari kejadian banjir, mitologi dalam representasinya, melalui ekspresi bahasa dan gambar yang beredar di ruang publik. Selain itu, ia juga menangkap dengan kritis dimensi politik dalam modernitas, yaitu ‘konstruksi’ desain tanggul sungai dalam proyeksi mitigasi banjir. Ini suatu ketenangan dan dedikasi yang tak diemban semua orang, terlebih jika membaca tulisan berbahasa Inggris saya yang lemah tata bahasa dan masih berlompatan sana-sini. Diskusi usai pukul 7 malam dan ia masih lanjut mengerjakan tugas lainnya di meja kerja. Ruangan dosen di lantai 14 Arts Tower sudah sangat hening. Di jalan pulang, saya berbalik dan menatap gedung Arts Tower dari jauh. Memposisikan diri sebagai dosen, arsitek, perempuan, terpisah dari keluarga, ia juga mengajari saya perihal lain tentang kesunyian.

September tahun ini menjadi bulan yang membuka satu jendela langit tentang hidup yang baru. Baginya dan bagi kami. Bagi ruang-ruang lain yang terlintasi dan tak terlihat sebelumnya, saat ini, dan nanti.

Tiba-tiba baru saja di saat saya tengah membaca buku, terbit setitik kesedihan akan waktu yang akan hilang. Meski supervisor ke dua saya mengatakan akan tetap mau membantu memberi masukan secara informal, bisa diperkirakan bagaimana kesibukan baru di tempat baru akan membawa energi dan waktunya nanti. Ya, saya tahu sejauh mana akan menjalin komunikasi dengannya setelah ini. Terlepas dari itu, setitik kesedihan ini entah kenapa muncul belakangan. Entah kenapa? Rasanya saya pernah mengalami ini sebelumnya. Sepertinya.. di saat-saat mendengar kabar bahagia dari orang lain, ruang diri saya juga terisi dengan ronanya. Saat sepi sendiri, baru saya mengenali bahwa bahagia datang bersama sedih.

Supervisor ke dua saya mampu membaca dengan mata batin. Ia mampu menyeimbangkan supervisor pertama yang lebih maskulin dengan mengartikulasikan ide yang puitik. Saya percaya memilih supervisor bukan hanya tentang nama besar seseorang dan institusinya, tapi bagaimana ia melihat hidup melalui tulisan yang berangkat dari pengalaman. Membaca profil di web kampus bahwa ia seorang Yahudi yang menelusuri konflik ruang antara Palestina-Israel dan gemar menulis puisi, saya tak perlu berpikir dua kali untuk menyusun email untuknya. Mungkin ini rahasia feminitas yang halus. Atau, mungkin karena kami sama-sama berlatar belakang keilmuan arsitektur; satu paras yang tak pasti, plural, dan eksploratif tanpa lupa kemawasan. Kematangan ini dapat dirasakan dari sikap supportif merespon ide dalam tulisan saya, dan memberi kritik tanpa tendensi mengarahkan pada satu arus tertentu.

Meski kedua supervisor berusaha menenangkan saya dalam menghadapi perubahan dalam tim (manis sekali ya, bahkan ia menawarkan ‘visiting study’ ke Cambridge :)), akan ada yang hilang dalam proses melepaskan dan menerima. Namun, barangkali jendela langit terlampau luas untuk saya intip hari ini, detik ini. Pada akhirnya, mengatur nafas panjang dalam perjalanan riset ini merupakan tanggung jawab saya untuk berlatih mandiri. Mengikat diri juga bukan niat dan tujuan saya belajar selama empat tahun ke depan. Mungkin jemari puisi juga akan menemukan jalannya sendiri untuk membasuh siapapun yang dikehendakinya. Semesta selalu punya cara yang arif untuk mengingatkan perihal erat dan lapang setiap peristiwa.

Sebuah penerimaan membuka satu jendela langit yang luas. Hidup yang baik mengantarkan keajaiban setiap hari pada insan-insan terpilih. Rasanya tak ada yang benar-benar tahu dan mampu memastikan lika-liku jalannya. Betapa singkat pertemuan sebelum persimpangan. Hanya tersisa upaya untuk menghidupi ruang dan waktu dengan baik dan tenang, di momen-momen yang tak terulang. Dalam ruang antara November tahun lalu menuju September mendatang, bertemu dan mengenal Irit Katz dari dekat seperti mengenal seorang penyair di tepian danau yang hangat. Semesta membersamai desir puisinya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

15 Maret 2020

Portobello Point, genap empat bulan

Menggenapi empat bulan di Sheffield, berikut adalah daftar keajaiban yang hadir membersamai:

1. Berteman dan bersahabat ternyata keajaiban yang paling terasa saat S3. Berbeda dengan S1 dan S2 yang mensyaratkan pertemuan rutin, studi S3 berupa riset mandiri membuat pertemanan yang lepas. Kebijakan tentang Corona makin membatasi interaksi langsung. Saat-saat bertemu menjadi satu kemewahan yang tak selalu ada. Terlepas dari itu, saya sungguh bersyukur mengenal teman-teman baru di sini. Juga menjaga pertemanan dengan teman-teman di tanah air. Semoga ada kesempatan bertemu kembali.

2. Belajar lebih dalam tentang topik yang saya minati dan menjalin hubungan baik dengan supervisor. Riset sepertinya ibarat taman belakang rumah yang mencerminkan ruang privasi ekspresif seseorang. Di kampus ini, saya bertemu orang-orang yang asyik menggeluti berbagai bidang. Dulu saya sempat merasa insecure karena merasa apa yang saya pelajari kurang relevan dibanding yang lain. Ternyata anggapan ini muncul karena saya pernah merasa tersudut oleh pandangan dan penilaian seseorang. Padahal dunia keilmuan dan arah pengetahuan begitu luas 🙂 Begitupula ruang untuk mendedikasikan diri untuk berbagi cerita di dalamnya. Meski sempat merasa sedih karena penilaian itu, saya beranikan diri untuk terus belajar dan membuka wawasan keilmuan. Sikap dan pandangan manusia takkan lepas dari penilaian orang lain. Ini belum apa-apa. Perjalanan masih panjang.

3. Menjalani studi di Sheffield yang sepi, mendekat dengan diri sendiri. Mungkin saya telah melewatkan banyak hal dan mengecewakan orang lain. Dan tak apa, semua akan baik-baik saja. Kehidupan akan tetap berjalan, dunia berputar dengan atau tanpa seorang manusia. Semakin terasa bagaimana memahami apa yang saya perlukan dan usahakan, sebelum memutuskan untuk membuka jalan. Meluangkan waktu untuk berpikir sebelum menerima tawaran orang lain. Dan belajar menyampaikan maksud dengan jelas dan santun. Barangkali ini bagian belajar yang paling berat dan esensial.

4. Hadir seutuhnya. Hari demi hari. Detik demi detik. Meresapi diri dan lingkungan. Apapun yang terjadi, saya berada di sini, Sheffield, sampai empat tahun ke depan. Makin mengenal seluk beluk kotanya. Aksen bahasa. Aroma angin. Deru jalan. Menanti saat-saat mendaki Peak District dan menyusuri River Don lebih jauh. Mengunjungi museum dan sketsa sudut-sudut rahasia. Semoga kami akan membersamai dengan cerita manis. Pahitnya pun diterima dengan nafas kebebasan.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Jingga

Portobello, 16 Januari 2020. genap 2 bulan, 34 bulan di hadapan.

Melepaskan usia, menitipkan umur berenang-renang, membasuh ragu dengan kesegaran jiwa

Saya semakin menjadi kota ini. Menepi, menyepi, asik sendiri. Impian dan harapan melukis angan. Saat kata demi kata mengetuk alam pikiran dan rasa, yang ada hanya penghayatan. Nanti… setelah ini… betapa riang…

Khayalan mengembang seiring waktu yang meruang. Siapa sangka menjalani setapak ilmu pengetahuan begini senang sekaligus sedih. Saat menjadi tahu adalah menyadari ketidaktahuan, dan hidup seperti keriuhan pasar malam yang singkat. Seperti Pram mencatat, ‘satu per satu mereka datang, satu per satu mereka pergi…’

Barangkali hidup adalah ruang tunggu sekaligus ruang ganti. Dalam jeda dari satu tempat ke tempat lain, memilih kain yang patut, bercermin dan bertanya, seberapa pantas? Seringkali tak mampu menawar. Kadang lengah, tergelincir. Hanya ada penghayatan dalam kepekaan yang sekali-sekali tumpul oleh kemilau dunia. Langkah demi langkah menuntun arah, lantas bertanya: apakah ini nyata terjadi?

Jendela kamar melukiskan langit malam. Jupiter bertanya tentang apa-apa yang dilupakan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tentang pulang

Sheffield, 27 Desember 2019 – 4 Januari 2020

Sore beranjak malam di sela-sela percakapan di penghujung tahun. Sesaat suasana rumah meruang dalam bahasa ibu yang nyaman sahut menyahut. Ternyata saya tak benar-benar sendiri mengadu nasib di kota kecil ini. 

Juga saat pulang.

Ternyata saya tak benar-benar sendiri saat melangkah pulang bersama kelompok keluarga calon doktor. Stroller. Mantel kecil. Dua pasang kaki yang berjalan pelan beriringan. Kadang mendahului yang lain. Ada kalanya mundur memberi ruang. 

Barangkali Tuhan menciptakan kasih dalam ruang tunggu yang sabar bernama keluarga.

Barangkali perihal usia akan selalu begini. Menandai diri dengan yang sudah dan yang belum. Berjalan dari satu tiba ke tiba yang lain. 

Seseorang bertanya tentang perihal yang penting. Things that matter. Yang pernah ada, namun hilang. Sampai tiba.

Di persimpangan Diamond, saya melambaikan tangan pada sosok-sosok itu, kemudian berbalik melanjutkan langkah. Angin Desember yang dingin berbisik tentang hangat di balik pintu rumah.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

baru bisa bilang aku

Sheffield, 3 hari menuju 1 bulan. 35 bulan lagi.

Pada suatu pagi yang terlambat. jendela basah. langit dingin. ku buka mata dan melihatmu di sana. berbaring berselimut mimpi. pulas. damai. seperti anak kecil.

Doaku menyentuh lembut kesunyianmu, berkata: bahagialah, aku di sini menjagamu.

Ah, aku baru bisa bilang aku.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

jauh

akhir-akhir ini saya merasakan gemuruh ombak yang terus bergulung dan menghempas

ombak yang telah lama diantisipasi, yang tak menetap tapi pasti

dan berulang

gemuruhnya menggelung langkah-langkah kecil saya di dasar

semakin jauh berjalan, semakin kuat hempasnya

sementara gunung itu masih diam saja di sana

angkuh dan dingin

kadang hangat saat senja, sebelum lenyap ditelan gelap

seperti layaknya perjalanan panjang, bekal terpenting adalah kemantapan diri, meski itu berarti mesti sendiri

beberapa hal sudah ditinggalkan di belakang

tersisa tubuh yang makin rapuh dimakan usia dan keinginan untuk terus bergerak maju

sekali-sekali, hidup menyertai keajaiban-kesenangan kecil yang tak banyak syarat

kecil yang berarti, kecil yang menyesuaikan arah, arus, dan hening

Posted in kisah, Sketsa | Leave a comment